This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Tonang Pradityo, seorang mahasiswa aktif Universitas Gunadarma ini pernah mengalami kejadian mengerikan ketika sedang berpergian untuk perpisahan sekolah. Tonang yang kala itu mengaku mengalami kejadian kesurupan, bersama teman-teman sekelasnya berkunjung ke Villa Kompas Gramedia yang berada di daerah Pacet, Cipanas.
Villa yang ditempati oleh teman sekelas Tonang tersebut memang dikenal dengan udara dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Kala itu, kejadian mengerikan yang dialami Tonang disaksikan oleh teman-temannya pada pukul sebelas malam.
“Awalnya, teman-teman perempuan mengajak, kejadian pertamanya sebelum kaca pecah. Namun, tidak ada barang yang terjatuh di atasnya. Kemudian teman-teman perempuan saya mengajak pindah ke kamar sebelah. Setelah itu… kejadian terjadi ketika pundak saya menjadi berat,” ujar Tonang menjelaskan kejadian mengerikan yang dialaminya tersebut.
Tonang pun mengakui jika ketika itu dirinya “dimasuki” oleh tiga hantu. “Untuk yang (hantu) laki-laki itu saya berteriak seperti orang kesurupan. Yang kedua juga sama. Terus untuk yang (hantu) anak-anaknya, saya diajak bermain oleh si (hantu) anak tersebut. Dibawa untuk bermain di taman, tapi untungnya ditahan oleh teman-teman saya,” tambahnya.
Kejadian kesurupan memang sering terjadi di masyarakat, mulai dari kesurupan secara individual hingga secara massal. Bahkan beberapa kejadian kesurupan yang terkenal diangkat ke layar kaca. Contohnya saja kasus kesurupan Anneliese Michel yang diangkat menjadi film “The Exorcism of Emily Rose” di tahun 2005 lalu. Film yang dibintangi oleh Jennifer Carpenter tersebut berhasil meraih rating sebesar 6,7.

Namun, sebenarnya apa sih kesurupan itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kesurupan memiliki makna sebagai kemasukan (setan, roh) sehingga seseorang bertindak aneh-aneh. Meskipun lekat dengan hal-hal berbau mistis, kesurupan sendiri memiliki makna yang berbeda-beda dilihat dari tiga aspek kehidupan yaitu, spiritual, psikologis, dan medis.
Dari segi spiritual, kesurupan dilihat sebagai suatu kejadian yang dikaitkan dengan hal mistik. Arto, seorang suhu, juru kunci, paranormal yang sudah berkiprah dalam bidang mistik selama 21 tahun menanggapi makna kesurupan.
“Kesurupan itu kalo dilihat secara mata batin atau spritual atau menurut abang sendiri, adanya kekosongan spiritual manusia, ada juga guncangan jiwa para diri manusianya ada juga tekanan batin pada diri manusianya,” ujar Arto.
Pria berdarah Solo, Wonogiri ini juga mengatakan kurangnya seseorang mengingat Maha Kuasa atau Tuhan juga menjadi faktor kesurupan dapat terjadi. Belum lagi jika orang yang mengalami kesurupan dalam keadaan kosong pikirannya dan tekanan batin.
Arto juga memaparkan jika kesurupan tidak hanya “dimasuki” arwah saja namun juga dalam bentuk sugesti. “Kadang ada yang mengakhiri hidupnya untuk bunuh diri karena hasutan jin atau setan, itu hanya menghasut belum kesurupan,” jelasnya.
Namun, Arto juga mengatakan jika yang biasanya memasuki raga manusia adalah jin. Dalam hal ini jin tidak “memasuki” tetapi lebih mengendalikan iman dari manusia tersebut sehingga raga manusia menyatu dengan jin.
Berbeda dengan aspek spiritual yang melihat kesurupan berasal dari hal mistis seperti hantu dan roh, aspek psikologis melihat kesurupan sebagai sebuah penyakit mental yang dinamakan DSM (Diagnostic Estetikal Manual of mental this order). Adapula penyakit mental ini merupakan jenis gangguan jiwa yang dapat menyimpan gangguan fungsi orang tersebut.
DSM sendiri terbagi menjadi beberapa macam seperti schizophrenia dan hysteria. Dari sisi psikologi pun tidak mengatakan jika mereka percaya dengan hal mistis namun juga tidak menolak hal tersebut. Widhi, seorang dosen psikolog di Atmajaya mengatakan jika dirinya harus bijak dalam menentukan hal tersebut di Indonesia, “sebenarnya kalo karena saya sebagai orang psikologi di Indonesia saya harus cukup bijak untuk memisahkan antara yang mana yang mistis atau engga,” ujarnya.
“Seandainya masalah tersebut masih merupakan bagian dari kebudayaan dari masyarakat setempat itu kita nggak bisa mengatakan sebagai gangguan jiwa. Contohnya ya kalau misalkan saya rasa di Indonesia kita berharap, kalian familiar dengan istilah wangsit nggak ? Cari wangsit misalkan ke gunung kawi, kalo perilaku itu dibawa ke budaya misalnya dibawa ke amerika serikat itu bisa dipandang sebagai sesuatu yang gangguan kejiwaan kaya aneh percaya hal-hal semacam itu,” lanjutnya.
Sedangkan untuk menjawab pertanyaan bagaimana kesurupan massal dapat terjadi, Widhi pun menjelaskan jika terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat memicu seseorang mengalami kesurupan, antara lain seperti sistem pertahanan diri, waktu, lokasi, hingga gender.
Widhi menjelaskan jika adanya faktor tekanan pada waktu tertentu maupun di lokasi tertentu dapat mengakibatkan terjadinya kesurupan massal, “Kita ambil contoh yang disekolah disini dibahas menarik sekali, ehm bahwa kesurupan masal disekolah itu lebih banyak terjadi saat masih ada system yang memberlakukan ujian nasional sebagai satu2nya kriteria kelulusan siswa, semenjak jaman kalian ujian nasional udah bukan menjadi penentu utama ya masih dipertimbangkan faktor ujian2 yg lain kali, ternyata faktor kesurupannya menurun.”
Salah seorang korban lain pun mengatakan hal yang sama dengan apa yang diujarkan oleh Widhi, “Retret kan ada sesi menangis, pas waktu sesi itu terjadi kejadiannya (kesurupan). Banyak rumor yang katanya angkatan saya yang nakal. Karena itu tempat retret kan itu tempat suci ya, karena tidak menjaga jadi kejadian (kesurupan),” ujar Stephanie Isan.
Stephanie mengatakan jika berawal dari satu orang yang jatuh dan mulai berteriak, yang lain pun ikut serta mengalami kejadian, “ada (orang) yang jatuh aja gitu, teriak-teriak tidak jelas ‘panas, panas’. Abis itu mulai yang lain juga ikutan teriak-teriak,” jelas Stephanie.
Berbeda dengan aspek psikologis yang masih memilih beberapa kasus yang mungkin terkait kebudayaan, dalam sisi medis justru tidak mengenal istilah roh, setan, dsb. Berdasarkan tulisan yang ditulis oleh Jery Tampubolon, penyebab kesurupan adalah tekanan sosial dan mental yang masuk ke alam bawah sadar seseorang. Adapula beberapa penyakit yang menyerupai kesurupan seperti epilepsi.
Penyakit seperti epilepsy mengakibatkan seorang pasien mengalami gejala seperti kejang-kejang. Hal ini sering dipandang sebagai kejadian yang mengerikan bagi sebagian orang sehingga banyak yang mengira penyakit ini merupakan sebuah kesurupan.

Selain penyakit epilepsy, ada juga beberapa jenis penyakit/gangguan yang sering salah dianggap oleh masyarakat sebagai kesurupan. Beberapa diantaranya adalah:
Skizofernia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, histeria, halusinasi, pikiran kacau dan perubahan pola perilaku. Delusi merupakan keyakinan yang salah dan tidak sesuai dengan realitas yang ada. Misal, menganggap diri sebagai titisan Nyi Roro Kidul, dan lainnya. Histeria sendiri merupakan gangguan yang ditandai dengan kurangnya kontrol atas tindakan dan emosi, yang tiba-tiba melepaskan emosinya secara meledak-ledak. Untuk halusinasi sendiri adalah persepsi yang kuat atas suatu peristiwa atau objek yang sebenarnya tidak ada. Gejala-gejala ini merupakan gejala dasar dari penyakit Skizofernia yang jika tidak ditangani dengan baik, akan bisa menetap dan berkembang menjadi semakin parah.
Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda. Gangguan ini ditandai dengan adanya sebuah kepribadian lain dalam diri seseorang yang tak terduga, terbentuk yang memiliki sifat bertentangan, berbeda 180 derajat dari sifat atau kepribadian asli penderita. Kedua pribadian yang saling bertentangan ini tidak saling mengenal dan mengingat akan kejadian yang telah dilakukan. Hal serupa yang sama dengan para korban kesurupan yang tidak nenyadari apa yang telah terjadi pada dirinya serta menjadi agresif.
Penyakit epilepsi atau ayan merupakan gangguan pada sistem saraf otak karena terjadi aktivitas yang berlebihan. Gejalanya yang diderita beragam, misal bengong sesaat, kesemutan, gangguan kesadaran, kejang-kejang atau juga kontraksi otot. Gejala ini bisa muncul mulai dari hitungan menit hingga jam yang dapat terjadi pada siapa saja meski tidak menular ke orang lain.
Gangguan disosiatif adalah gangguan yang ditandai dengan perubahan kesadaran mendadak yabg mempengaruhi memori identitas diri serta kesadarannya. Seseorang yang mengalami gangguan ini akan kesulitan untuk mengingat peristiwa-peristiwa pentinf yang pernah terjadi dalam dirinya, melupakan identitas dirinya bahkan membentuk sebuah identitas baru. Gangguan ini biasa muncul akibat peristiwa traumatik dalam kehidupan dan digunakan sebagai pertahanan diri menghadapi peristiwa serupa. Gangguan ini bisa berkembang semakin parah dan tahapan yang amat parah itu bisa berubah menjadi gangguan kepribadian ganda.
Sindrom Tourette merupakan kelainan saraf dengan ciri khas melakukan gerakan berulang-ulang yang tidak disadari atau disebut ‘tics’. Contohnya adalah mengedipkan mata berulang-ulang, mengangkat bahu terus menerus, kedutan pada wajah, latah dengan mengeluarkan segala kata-kata bahkan umpatan. Karena gejala itu, penderita gangguan ini sering disalahartikan mengalami kesurupan. Sindrom ini umumnya dialami anak-anak berusia 12-17 tahun yang penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti.
Sindrom ini berbeda dengan sindrom yang telah dibahas sebelumnya. Kelainan ini ditandai dengan pola tingkah aneh penderitanya yang berpura-pura mengalami kesakitan hanya untuk mendapatkan simpati dan perhatian dari orang lain. Penderitanya seringkali membuat-buat atau berpura-pura mengalami kesakitan, ingin operasi, mencurangi hasil tes laboratorium secara sengaja. Penderita gangguan ini sebenarnya tidak benar-benar dalam kondisi sakit, namun berpura-pura menjadi sakit hanya demi mendapat perhatian dari orang lain.
Itulah beberapa penyakit yang seringkali salah diartikan orang lain sebagai kesurupan. Mungkin dari beberapa penyakit itu, sedikit banyak masyarakat pernah mengetahuinya dan mengiranya merupakan gejala kesurupan. Namun, jangan sampai salah untuk menangani penyakit itu jika tidak ingin berimbas lain pada si penderita.

Lalu, bagaimana kita menanggapi orang yang mengalami kesurupan tersebut?
Dari aspek spiritual, sangat disarankan untuk memberi perhatian pada orang-orang yang mengalami tekanan mental atau yang pikirannya dalam keadaan kosong.
Sedangkan dari aspek medis dan psikologis disarankan untuk tidak mengepung korban dan berikan waktu dan ruang yang lebih agar merasa tenang. Namun, jika perilaku-perilaku yang ditunjukkan sudah meresahkan, membahayakan, dan mengganggu masyarakat ada baiknyajika mulai diberi penanganan secara medis seperti dibawa ke rumah sakit jiwa.
Jadi, apakah Anda mempercayai kejadian kesurupan? Atau Anda setuju dengan pandangan menurut aspek medis dan psikolog?
Continue reading “Kesurupan: Mistik atau Penyakit?”
Pernahkah Anda meminum obat antibiotik? Atau apakah Anda selalu meminum antibiotik ketika sakit?
Jika Anda pernah mengalami sakit yang disebabkan bakteri sehingga mengharuskan Anda berobat ke dokter, tentunya Anda akan diberi obat antibiotik. Pada umumnya, kegunaan antibiotik tersebut adalah untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri dan parasit. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi oleh virus. Dengan kata lain, penyakit yang disebabkan virus seperti flu, pilek, atau batuk tidak memerlukan antibiotik untuk disembuhkan.
Namun, banyak orang yang justru menyalahgunakan antibiotik ini. Ada yang mengkonsumsinya berlebihan, ada pula yang justru menggunakan antibiotik sebagai obat umum, bahkan ada juga yang tidak mengkonsumsinya sama sekali. Padahal, penyalahgunaan antibiotik ini dapat mengakibatkan tubuh menolak antibiotik atau yang biasa disebut antibiotic resistance.
Vanny Narita, seorang spesialis dalam bidang biokimia dan molekul biologi menjelaskan jika World Health Organization (WHO) sudah mencantumkan jelas mengenai panduan penggunaan antibiotik di website resminya. “Jadi, untuk antibiotic resistance sudah ada panduannya dari World Health Organization (WHO). Panduan untuk negara, panduan untuk institusi seperti rumah sakit dan insitusi yang terlibat dengan riset. Ada juga panduan untuk individu, panduan ini ada di website WHO. Di sana ada keterangannya termasuk antibiotik apa saja yang menjadi daftar prioritas, yang paling potensial tapi tidak untuk digunakan. Antibiotik mana saja yang resisten atau sebaiknya tidak digunakan,” ujar Vanny menjawab pertanyaan dalam salah satu seminar di Universitas Multimedia Nusantara.
Walaupun panduan penggunaan antibiotik sudah banyak dipublikan untuk masyarakat, masih banyak yang rupanya menyalahgunakan fungsi antibiotik itu sendiri. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus antibiotic resistance. Pada tahun 2016 sendiri terjadi 105 kasus resisten antibiotik di Jember dengan pasien yang menderita tuberculosis (TBC). Hal tersebut barulah yang terjadi di Indonesia, di Amerika Serikat sendiri diprediksi terdapat sebanyak 23.000 orang yang meninggal setiap tahunnya karena antibiotic resistance.
Hal ini membuktikan pula jika resistensi yang terjadi juga dapat berasal dari rumah sakit. Ditemukan sebesar 80% pada penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit Indonesia yang menggunakan antibiotik tanpa didasari oleh indikasi dan penelitan WHO. Kebanyakan para dokter yang menyarankan menggunakan antibiotik sebagai obat tanpa memeriksa pasien terlebih dahulu. Vanny pun ikut menjelaskan mengenai panduan pemberian antibiotik oleh dokter di rumah sakit.
“Ketika dokter memberi resep pada kita untuk antibiotik, salah satu panduan dari WHO adalah menanyakan bukti apakah betul jika kita mengalami penyakit infeksi bakteri. Karena jika seperti hanya flu dan lain-lain yang belum terverifikasi itu tidak menggunakan antibiotik. Misalnya, untuk sederhananya saja, jangan meminum antibiotik, tetapi tunggu sampai tiga hari dan demam di atas 38 derajat.”
Dari penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit Indonesia memang sering ditemukan dokter yang memberi resep antibiotik yang tidak sesuai dengan penyakit yang diderita oleh pasiennya. Antibiotik yang seharusnya digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri justru diberikan pada pasien yang mengalami penyakit karena virus. Paadahal, antibiotic resistance akan terjadi jika antibiotik yang diberikan tidak sesuai dengan penyakit yang diderita.
“Jadi, untuk antibiotic resistance, definisinya adalah bakterinya yg resistan terhadap obat. Bakteri itu memiliki mekanisme untuk menolak antibiotik. Jadi, antibiotik dapat membunuh bakteri dengan membuatnya menjadi pecah, bakteri tersebut dalam satu populasi maka ada satu atau dua yang resistan yang tidak mati. Yang resistan ini akan bertahan tapi tubuh kita tidak ada dampaknya karena hanya sedikit. Namun, over generation/time bakteri tersebut akan membelah diri jadi banyak atau auto selection. Nah, nanti yang resisten ini akan menjadi dominan jika diberi antibiotik yang sama atau yang tidak sesuai,” jelas Vanny mengenai proses antibiotic resistance.
Dampak dari antibiotic resistance sendiri antara lain seperti penyakit sulit sembuh, kekebalan tubuh menurun, penularan bakteri lebih cepat, meningkatkan kekebalan bakteri, komplikasi penyakit, hingga kematian. Untuk mencegah terjainya kekebalan bakteri terhadap antibiotik sendiri sangat disarankan bagi pasien untuk memeriksa dan menanyakan ulang kenapa pasien harus mengkonsumsi antibiotik.
Pasien juga harus menanyakan efek samping hingga cara menyimpan obat antibiotik yang benar. Selain itu, sangat dianjurkan bagi pasien yang menerima resep antibiotik untuk tidak mengubah dosis pengunaan dan mengikuti aturan dokter. Ada baiknya juga mengkonsumsi makanan oranik sebelum mengkonsumsi antibiotik.
Hal tersebut dikarenakan beberapa jenis daging atau sayuran yang dijual di pasar sudah terkontaminasi bakteri yang resistan terhadap antibiotik. Dengan mengkonsumsi sayur atau buah tersebut, secara tidak langsung bakteri yang sudah resistan berpindah ke dalam tubuh Anda.
Pihak WHO sendiri sudah bertindak untuk mengurangi terjadinya kasus antibiotic resistance dengan menandatangani deklarasi global kesehatan yang menyangkut resistensi antibiotik. Rencana WHO tersebut berfokus pada pengelola dan pengawas rumah sakit yang mana rumah sakit dan dokter akan mengurangi resep antibiotik. Berikutnya akan dilanjutkan dengan regulasi di peternakan. Setelah pengubahan regulasi pada rumah sakit dan peternakan. CDC juga akan turun tangan untuk melacak asal mula antibiotic resistance terjadi.
Langkah terakhir yang akan dilakukan adalah pengembangan antibiotik baru yang dilakukan oleh Institut Kesehatan Nasional AS dan Otoritas Riset dan Pengembangan Biomedia. Adapula IDSA yang bekerja sama untuk menyusun peraturan penyediaan dana untuk percobaan klinis.
Sebagai seorang jurnalis ilmiah, terdapat dua pilihan: menunggu sebuah cerita datang atau pergi mencarinya. Dengan menunggu cerita Anda dapat menseleksi untuk cerita yang terbaik. Sedangkan pergi mencari cerita lebih membutuhkan banyak kerjaan tapi Anda dapat menemukan sesuatu yang lebih tidak biasa.
Apa sumber bagus?
Sumber utama:
Sumber kedua:
Ide dari kehidupan sehari-hari?
Ketika sebuah pertanyaan berasal dari kekhawatiran kehidupan sehari-hari, seorang jurnalis secara langsung memiliki cara menyambungkan science dalam kehidupan seseorang. Pertemuan antara ilmiah dan kultur lain dan aspek sosial di masyarakat adalah area untuk memanen ide sebuah cerita. Untuk memberi sebuah keaslian, cobalah mengembangkan sudut pandang. Perhatikan tanggal jika ada pengumuman mengenai press conference mengenai topic bahasan Anda.
Mendaftar peringatan email
Bagi jurnalis ilmiah, internet yang baik digunakan sebagai akses penggunaan peringatan email untuk pemberitahuan secara cepat mengenai perkembangan dan untuk mendapat press releases, jika Anda memiliki topic spesifik yang ingin Anda monitori, cobalah gunakan google alerts untuk memonitor web berita atau blog dengan ketentuan tertentu.
Bertemu ilmuan
Jurnalis ilmiah yang menghargai kekhawatiran para ilmuan, dapat membangun hubungan kepercayaan yang baik dengan para ilmuan, tetap berhubungan dan mengunjungi ilmuan di masa depan. Mempertahankan laporan yang baik dengan seorang ilmuan adalah sebuah investasi berharga.
Bagaimana Anda mencari ilmuan untuk diinterview?
Anda dapat mencoba dengan berkunjung ke universitas farmasi, rumah sakit, dan institute penelitian. Carilah poster atau spanduk yang mengiklankan konferensi atau seminar. Catatlah dan telefon pengurus acaranya karena biasanya mereka senang jika ada jurnalis yang datang. Dengan cara ini ANda dapat membuat jaringan baru dengan siapa yang Anda butuhkan untuk komentar saat breaking news.
Adapula, science cafes yang memperbolehkan jurnalis dan ilmuan berinteraksi secara informal. Contohnya, www.wfsj.org atau www.cafescientifique.org.
Gunakan internet untuk mencari informasi ilmiah.
Anda dapat menggunakan internet untuk mencari lebih banyak mengenai pekerjaan ilmuan. Link seperti SciDev.Net, atau mesin pencari seperti google scholar sangat membantu untuk menemukan penemuan serta kontak ilmuan beserta profilenya.
Namun, ada hal-hal yang perlu diingat dalam menggunakan internet:
Meliput sebuah konferensi
Konferensi adalah alasan yang bagus untuk menaruh science ke halaman berita. Oleh karena itu, mengerjakan “PR” sebelum mendatangi konferensi akan sangat berarti:
Konferensi juga dapat membantu jurnalis mendapat ide mengenai status ilmuan dalam komunitas scientific. Sangatlah bernilai mengingat jika ilmian berbicara secara publik, kata-kata mereka adalah sebuah wewenang dan jurnalis memiliki hak untuk memberitakannya.
Dilema Etik
Hal yang penting bagi jurnalis mempertahankan keindepensian mereka dan tidak menerima uang dari pihak mana pun. Secara keseluruhan, transparansi adalah sesuatu yang bagus dalam artian ketika seseorang atau sebuah perusahaan membiayai Anda, lebih baik Anda juga memberitaukannya pada editor Anda.
Cerita dari publikasi
Jurnalis ilmiah tentunya sering memberitakan penelitian baru dari jurnal yang dipublikasikan, bahkan mereka mendapat akses ke jurnal tersebut. Penting bagi para jurnalis untuk mengetahui tempat dimana jurnal dapat ditemukan. Contohnya seperti www.eurekalert,org, www.news.bbc.co.uk, www.environment.newscientist.com, http://www.thehindubusinessline.com.
Lalu, darimana jurnalis mendapatkan informasi yang dibutuhkannya?
Anda dapat melihat melihat abstrak atau ringkasan di awal jurnal dan selanjutnya melihat ke diskusi atau kesimpulan untuk menyaring informasi yang Anda butuhkan dari jurnal tersebut.
Menilai kualitas sumber, apakah jurnal Anda “ilmiah yang buruk”?
Setelah menemukan cerita yang akan anda tulis, ada baiknya memeriksa sumber tempat dimana Anda mengambil jurnal. Jurnalis ilmiah sering dikatakan “ahli dalam ahli” yang mana menjelaskan bahwa mereka menghabiskan banyak waktu untuk mencari ilmuan yang tepat.
Oleh karena itu, dibutuhkan kriteria untuk memastikan “ilmiah yang baik” dan “ilmiah yang buruk”. Bahkan dalam ilmiah, Anda bisa saja berhadapan dengan penipu.
Pertanyaannya, bagaimana mengetahuinya?
Anda dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah ilmuan ini direkomendasikan oleh seseorang yg terpercaya? Untuk siapakah ilmuan ini bekerja? Bagaimana penelitiannya dibiayai (oleh institute)? Apa yg sebelumnya sudah dipublikasikan oleh ilmuan ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat Anda ajukan ke diri sendiri sebelum mewawancarai seorang ilmuan.
Sudahkah Anda menonton serial tv 9-1-1 episode tujuh? Jika belum, mungkin sebaiknya Anda menonton episode ketujuh dari serial tv karya Ryan Murphy ini. Pada episode ketujuhnya, kali ini 9-1-1 menunjukkan keadaan kejahatan dan keganjilan yang terjadi ketika bulan purnama muncul.
Di awal episode, Abby (Connie Britton) dan Buck (Oliver Stark) berdebat mengenai mitos bulan purnama. Buck mengatakan banyak kejadian yang aneh di bulan purnama mulai dari perampokan hingga pembunuhan. Abby yang merupakan petugas 911 pun tidak setuju dengan hal tersebut karena tidak ada data yang membuktikannya. Namun, dari perdebatan itulah kejadian-kejadian aneh dimulai.

Kasus pertama berawal dengan rencana pembunuhan yang dilakukan seorang mantan suami terhadap mantan istrinya dan temannya. Kemudian ada panggilan darurat yang melaporkan seseorang yang menggila dan memakan wajah orang lain di taman. Adapula seorang penggemar sushi yang ternyata memiliki parasite (cacing pita) yang tumbuh di dalam tubuhnya dan yoga ibu hamil yang menjadi tempat bersalin dadakan.

Hal ini membuat Abby kembali memikirkan mitos bulan purnama. Namun, apakah mitos tersebut memang terbukti benar?
Berdasarkan artikel yang dibuat oleh Hal Arkowitz dan Scott O. Liliendeld di scientificamerican.com, menunjukkan bahwa sebanyak 45% mahasiswa percaya bahwa manusia rentan mengalami perilaku aneh dan survey lainnya menunjukkan bahwa kesehatan mental yang menyebabkan kerentanan tersebut. Disebutkan pula pada 2007 beberapa departemen kepolisian di Inggris mendapat laporan kejahatan yang tinggi pada bulan purnama.
Dalam artikel yang berjudul “Lunacy and the Full Moon” tersebut, Arkowitz dan Liliendeld mengatakan adanya dasar “air” mengakibatkan munculnya berbagai macam kegilaan di bulan purnama. 80% tubuh manusia mengandung air yang kemudian menjadi penjelasan perubahan perilaku manusia pada bulan purnama.
Pertama, adanya efek gravitasi yang mempengaruhi aktivitas otak. Kedua, kekuatan gravitasi bulan berpengaruh pada perairan terbuka seperti laut dan danau, ketiga efek gravitasi bulan hanya muncul pada bulan penuh atau purnama.
Penulis juga memberikan pernyataan dari psikologis Universitas Internasional Florida, James Rotton, astronomer Universitas Colorado, Roger Culver, dan Psikologis Universitas Saskatchewan, Ivan W. Kelly mengenai efek perilaku pada bulan purnama. Dengan mencampurkan seluruh pembelajaran mereka tidak menemukan apa pun.
Adapula penulis mengambil pembelajaran dari psikologis Rotton dan Kelly yang berjudul “Much Ado about the Full Moon” yang dilakukan pada 1985. Dari hasil yang didapat, kedua psikolog tersebut menunjuk beberapa temuan seperti seringnya kecelakaan yang terjadi pada bulan purnama dan biasanya bulan purnama muncul pada akhir pekan yang mana banyak orang sedang berkendara.
Sedangkan dari jurnal oleh Michal Zimecki yang berjudul “The Lunar Cycle: Effects on Human and Animal Behavior and Physiology” penulis menuturkan efek bulan purnama memang terjadi untuk proses reproduksi, menstruasi, pembuahan, dan angka kelahiran.
Zimecki juga mengatakan jika hal lain yang terkait perilaku manusia seperti kecelakaan, kejahatan, dan bunuh diri memang terpengaruh dengan bulan purnama namun, hal tersebut tidak memiliki korelasi antara bulan purnama dengan reproduksi manusia atau kunjungan ke klinik dan UGD.
Untuk proses reproduksi sendiri, bulan purnama memiliki efek radiasi elektromagnetik yang dapat merangsang siklus menstruasi. Untuk kelahiran sendiri, tidak ada efek signifikan di antara dua pembelajaran yang dilakukan di Australia dan Amerika.
Sedangkan, angka statistic untuk perilaku manusia pada bulan purnama pun tidak membuktikan secara signifikan. Angka kecelakaan tertinggi terjadi dua hari sebelum fase purnama. Pada bulan purnama sendiri, angka kecelakaan justru berada di tinggkat terendah.
Namun, angka kejahatan pada bulan purnama memang lebih tinggi dibanding hari biasa. Penuis menyimpulkan angka ini disebabkan oleh “human tidak waves” yang disebabkan oleh gravitasi bulan.
Pernyataan ini cukup berbeda dengan penelitian yang dilakukan Rotton dan Kelly, kedua psikologis tersebut menyimpulkan bahwa memang tidak ada keterkaitan antara bulan purnama dengan perilaku manusia tetapi, ada kemungkinan perubahan perilaku ini diakibatkan oleh kepercayaan manusia jika bulan purnama dapat mempengaruhi perilaku.
Rotton dan Kelly pun menuturkan hasil yang didapat dari penelitiannya tersebut adalah tingginya korelasi antara kepercayaan efek bulan purnama dan penerimaan fenomena paranormal seperti persepsi ektrasensori, bentuk kehidupan di luar bumi, dan reinkarnasi.
Lalu, jika efek bulan purnama adalah kepercayaan paranormal, bagaimana bisa kepercayaan tersebut tersebar luas? Pertanyaan ini membawa kita kembali ke artikel Arkowitz dan Lilienfeld. Keduanya mengungkapkan adanya peran media dalam penyebaran mengakibatkan kepercayaan efek bulan purnama ini terkenal.
Contohnya saja seperti film horror di Hollywood seperti 9-1-1 yang menunjukkan sisi menyeramkan yang dikaitkan dengan bulan purnama. Alasan lainnya kenapa efek bulan purnama bisa tersebar luasa adalah dari korelasi ilusi.
Psikologis Loren dan Jean Chapman dari Universitas Wiscosin mengatakan korelasi ilusi memunculkan kecenderungan kejadian yang sering terjadi. Contohnya, ketika sesuatu hal aneh terjadi pada bulan purnama kita akan mengingatnya dan menceritakannya pada orang. Sedangkan, jika tidak terjadi sesuatu pada bulan purnama kita tidak akan mengingatnya.
Adapula alasan lain yang diungkapkan Charles L. Raison seorang psikiatris dari Universitas Emory. Raison mengatakan terangnya bulan purnama dapat mempengaruhi kekurangan tidur apalagi untuk orang yang memiliki penyakit mental. Karena kekurangan tidur inilah orang sering terpicu untuk bertindak tidak menentu pada kondisi psikologis tertentu. Dari sinilah kemungkinan kepercayaan tersebut muncul.
Bagaimana? Apakah Anda percaya dengan efek bulan purnama?
Referensi:
Arkowitz, Hal dan Scott O. Lilienfeld. 2009. Lunacy and the Full Moon. Diakses pada 9 Maret 2018. https://www.scientificamerican.com/article/lunacy-and-the-full-moon/.
Misasi, Mary. 2018. 9-1-1 Review: Full Moon (Creepy AF) (Season 1 Episode 7). Diakses pada 9 Maret 2018. https://www.telltaletv.com/2018/03/9-1-1-review-full-moon-creepy-af-season-1-episode-7/
Rotton, James dan I. W. Kelly. 1985. Much Ado About the Full Moon: A Meta-Analysis of Lunar-Lunacy Research. Vol. 97, No. 2, 286-306.
Zimecki, Michal. 2006. The Lunar Cycle: Effect on Human and Anima Behavior and Physiology. Diakses pada 9 Maret 2018. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/16407788/.
Wartawan polisi memiliki kejahatan untuk diberitakan, wartawan politik memiliki pemilihan partai untuk diberitakan, wartawan olahraga memiliki permainan untuk diberitakan, sedangkan wartawan sains memiliki jurnal untuk diberitakan. Faktanya, banyak jurnal yang dipublikasikan dalam setaun dibanding permainan, pemilihan, dan kejahatan jika digabungkan. Untuk memilih dengan baik, Anda harus mengetahui berita utama menyediakan jurnal apa dan sains seperti apa yang dipublikasikan. Anda perlu mengetahui perbedaan berbagai jurnal dan makalah.
Menu Jurnal
Bagi penulis ilmiah, jurnal yang menarik adalah jurnal peer-reviewed dengan kata lain sebuah jurnal yang sudah dibaca oleh seorang ahli dan kemungkinan sudah melakukan koreksi dan revisi sebelum jurnal tersebut dipublikasikan. Secara tradisional, banyak penulis ilmiah yang berfokus pada reportasi “Big Four”: Science, Nature, New England Journals of Medicine, dan Journal of the American Medical Association.
Science dan Nature adalah sumber utama dalam pemberitaan ilmiah. Mereka adalah interdisiplin jurnal. Selain itu, mempublikasikan penelitian jenis ini juga menjadi hal penting dalam masyarakat. Dalam beberapa tahun belakangan, beebrapa jurnal juga bergabung dalam jurnal “Big Four”.
Media jurnal menjadi satu-satunya sumber penting dalam penelitian ilmiah dan beberapa bidang yang bukan keahlian mereka. Banyak berita yang bersembunyi di balik jurnal yang tidak memperlihatkan keberadaannya. Ketika Anda menuliskan ilmu tertentu, Anda perlu menanyakan pada ahli mengenai disiplin ilmu tersebut.
Hal lain yang perlu Anda perhatikan adalah tidak semua jurnal muncul bertujuan untuk mempublikasikan penelitian asli. Banyak yang dikhususkan sebagai artikel “review” yang membantu peneliti untuk mengikuti perkembangan baru dan tren baru dalam bidangnya. Biasanya, artikel review tidak menjadi sumber berita tetapi mereka menyediakan latar belakang yang penting dalam pelaporan berita.
Embargo
Ciri khas jurnal utama adalah desakan dalam meneggakkan embargo dalam perilisan berita mereka. Makalah baru biasanya disediakan seminggu sebelum perilisan untuk para jurnalis menerima bahan yang akan diembargo sampai waktu perilisan. Sistem ini memberi waktu untuk para jurnalis mengerjakan cerita tanpa takut seseorang lebih dulu mempublikasikannya.
Dalam kondisi tertentu, peneliti harus menandatangani perjanjian untuk tidak memberitaukan jurnal mereka kepada jurnalis kecuali jurnalis setuju untuk tidak melanggar embargo. Berhati-hatilah dengan system embargo karena ada kemungkinan seseorang akan melanggar embargo. Begitu ada publikasi yang melanggar embargo, media tidak akan mengobservasi jurnal tersebut.
Persiapan
Karena adanya system embargo, penulis ilmiah bisa mempersiapkan terlebih dahulu ceritanya sebelum waktu perilisan. Biasanya, dalam penulisan Anda memerlukan informasi untuk latar belakang dari berbagai sumber. Kunci selanjutnya adalah baca makalahnya.
Beberapa jurnalis membaca makalah ilmiah yang dirilis atau hanya melihat sekilas makalahnya dan menanyakan peneliti pertanyaannya. Kalau Anda ingin menjadi jurnalis yang baik, belajar untuk membaca makalah ilmiah secara kritis.
Melalui semua proses membaca lebih baik mencatat pertanyaan yang muncul di kepala Anda kemudian tentukan peneliti mana yang dapat menjawabnya. Tentunya, Anda perlu berbicara dengan salah satu penulis makalah tersebut. Nama orang pertama yang ditulis biasanya yang mengerjakan paling banyak dari makalah, sedangkan nama terakhir yang ditulis biasanya peneliti yang lebih senior yang tidak melakukan banyak tulisan.
Hal yang bagus jika juga melakukan omongan bersama lebih dari satu penulis. Mereka biasanya bekerja dalam aspek berbeda sehingga menghasilkan pendapat yang berbeda dan hasil yang signifikan. Untuk cerita dari jurnal, Anda memerlukan komentar dari luar sumber yang tidak terlibat dalam jurnal, hal ini penting untuk mengimbangi cerita Anda. Hal ini juga untuk menerapkan cerita dua sisi.
Faktanya, komentar dari luar bertujuan untuk menyediakan penilaian cerdas untuk pembaca dari ahli pengetahuan. Hal ini penting karena ilmuan yang kompeten akan memberikan penilaian yang sama pada makalah yang diberikan.
Memeriksa Fakta
Tulis Cerita
Sejak awal Anda menentukan jurnal, Anda harus memikirkan mengenai kalimat pembuka. Selanjutnya, Anda dapat mengikuti alur dengan mendukung lead berdasarkan fakta. Sediakan kutipan yang dapat mengekspresikan secara signifikan. Berikan jawaban detail yang dapat menjawab pertanyaan pembaca. Sebutkan juga apa yang dapat dan tidak dapat terjadi berikutna.
Namun, selalu ingat, terkadang hal yang terbaik adalah tidak menulis cerita sama sekali. Hal yang cukup sering untuk menunggu ilmuan mempublikasian penelitian untuk diberitakan. Pada akhirnya, Anda menyediakan cerita berdasarkan kerja ilmiah dengan konteks dan perspektif.
Cara Menulis Berita Berdasarkan Makalah Penelitian
Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menulis berita berdasarkan makalah penelitian antara lain:
Karena itu, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:
-Berbicara dengan penulis dan mendapatkan komentar dari ilmuan di bidang yang sama
-Luruskan fakta Anda
-Jangan menggurui pembaca Anda
-Jangan membuat kesalahan
Reference:
Blum, Deborah, Mary Knudson, dan Robin M. Henig. 2006. A Field Guide for Science Writers. New York: Oxford.
Theguardian. 2014. How to write a science news story based on a research paper. diakses pada 9 Maret 2018. https://www.theguardian.com/science/2014/mar/28/news-story-research-paper-wellcome-trust-science-writing-prize.
KETIKA BULAN PURNAMA MUNCUL
Sudahkah Anda menonton serial tv 9-1-1 episode tujuh? Jika belum, mungkin sebaiknya Anda menonton episode ketujuh dari serial tv karya Ryan Murphy ini. Pada episode ketujuhnya, kali ini 9-1-1 menunjukkan keadaan kejahatan dan keganjilan yang terjadi ketika bulan purnama muncul.
Di awal episode, Abby (Connie Britton) dan Buck (Oliver Stark) berdebat mengenai mitos bulan purnama. Buck mengatakan banyak kejadian yang aneh di bulan purnama mulai dari perampokan hingga pembunuhan. Abby yang merupakan petugas 911 pun tidak setuju dengan hal tersebut karena tidak ada data yang membuktikannya. Namun, dari perdebatan itulah kejadian-kejadian aneh dimulai.

Kasus pertama berawal dengan rencana pembunuhan yang dilakukan seorang mantan suami terhadap mantan istrinya dan temannya. Kemudian ada panggilan darurat yang melaporkan seseorang yang menggila dan memakan wajah orang lain di taman. Adapula seorang penggemar sushi yang ternyata memiliki parasite (cacing pita) yang tumbuh di dalam tubuhnya dan yoga ibu hamil yang menjadi tempat bersalin dadakan.

Hal ini membuat Abby kembali memikirkan mitos bulan purnama. Namun, apakah mitos tersebut memang terbukti benar?
Berdasarkan artikel yang dibuat oleh Hal Arkowitz dan Scott O. Liliendeld di scientificamerican.com, menunjukkan bahwa sebanyak 45% mahasiswa percaya bahwa manusia rentan mengalami perilaku aneh dan survey lainnya menunjukkan bahwa kesehatan mental yang menyebabkan kerentanan tersebut. Disebutkan pula pada 2007 beberapa departemen kepolisian di Inggris mendapat laporan kejahatan yang tinggi pada bulan purnama.
Dalam artikel yang berjudul “Lunacy and the Full Moon” tersebut, Arkowitz dan Liliendeld mengatakan adanya dasar “air” mengakibatkan munculnya berbagai macam kegilaan di bulan purnama. 80% tubuh manusia mengandung air yang kemudian menjadi penjelasan perubahan perilaku manusia pada bulan purnama.
Pertama, adanya efek gravitasi yang mempengaruhi aktivitas otak. Kedua, kekuatan gravitasi bulan berpengaruh pada perairan terbuka seperti laut dan danau, ketiga efek gravitasi bulan hanya muncul pada bulan penuh atau purnama.
Penulis juga memberikan pernyataan dari psikologis Universitas Internasional Florida, James Rotton, astronomer Universitas Colorado, Roger Culver, dan Psikologis Universitas Saskatchewan, Ivan W. Kelly mengenai efek perilaku pada bulan purnama. Dengan mencampurkan seluruh pembelajaran mereka tidak menemukan apa pun.
Adapula penulis mengambil pembelajaran dari psikologis Rotton dan Kelly yang berjudul “Much Ado about the Full Moon” yang dilakukan pada 1985. Dari hasil yang didapat, kedua psikolog tersebut menunjuk beberapa temuan seperti seringnya kecelakaan yang terjadi pada bulan purnama dan biasanya bulan purnama muncul pada akhir pekan yang mana banyak orang sedang berkendara.
Sedangkan dari jurnal oleh Michal Zimecki yang berjudul “The Lunar Cycle: Effects on Human and Animal Behavior and Physiology” penulis menuturkan efek bulan purnama memang terjadi untuk proses reproduksi, menstruasi, pembuahan, dan angka kelahiran.
Zimecki juga mengatakan jika hal lain yang terkait perilaku manusia seperti kecelakaan, kejahatan, dan bunuh diri memang terpengaruh dengan bulan purnama namun, hal tersebut tidak memiliki korelasi antara bulan purnama dengan reproduksi manusia atau kunjungan ke klinik dan UGD.
Untuk proses reproduksi sendiri, bulan purnama memiliki efek radiasi elektromagnetik yang dapat merangsang siklus menstruasi. Untuk kelahiran sendiri, tidak ada efek signifikan di antara dua pembelajaran yang dilakukan di Australia dan Amerika.
Sedangkan, angka statistic untuk perilaku manusia pada bulan purnama pun tidak membuktikan secara signifikan. Angka kecelakaan tertinggi terjadi dua hari sebelum fase purnama. Pada bulan purnama sendiri, angka kecelakaan justru berada di tinggkat terendah.
Namun, angka kejahatan pada bulan purnama memang lebih tinggi dibanding hari biasa. Penuis menyimpulkan angka ini disebabkan oleh “human tidak waves” yang disebabkan oleh gravitasi bulan.
Pernyataan ini cukup berbeda dengan penelitian yang dilakukan Rotton dan Kelly, kedua psikologis tersebut menyimpulkan bahwa memang tidak ada keterkaitan antara bulan purnama dengan perilaku manusia tetapi, ada kemungkinan perubahan perilaku ini diakibatkan oleh kepercayaan manusia jika bulan purnama dapat mempengaruhi perilaku.
Rotton dan Kelly pun menuturkan hasil yang didapat dari penelitiannya tersebut adalah tingginya korelasi antara kepercayaan efek bulan purnama dan penerimaan fenomena paranormal seperti persepsi ektrasensori, bentuk kehidupan di luar bumi, dan reinkarnasi.
Lalu, jika efek bulan purnama adalah kepercayaan paranormal, bagaimana bisa kepercayaan tersebut tersebar luas? Pertanyaan ini membawa kita kembali ke artikel Arkowitz dan Lilienfeld. Keduanya mengungkapkan adanya peran media dalam penyebaran mengakibatkan kepercayaan efek bulan purnama ini terkenal.
Contohnya saja seperti film horror di Hollywood seperti 9-1-1 yang menunjukkan sisi menyeramkan yang dikaitkan dengan bulan purnama. Alasan lainnya kenapa efek bulan purnama bisa tersebar luasa adalah dari korelasi ilusi.
Psikologis Loren dan Jean Chapman dari Universitas Wiscosin mengatakan korelasi ilusi memunculkan kecenderungan kejadian yang sering terjadi. Contohnya, ketika sesuatu hal aneh terjadi pada bulan purnama kita akan mengingatnya dan menceritakannya pada orang. Sedangkan, jika tidak terjadi sesuatu pada bulan purnama kita tidak akan mengingatnya.
Adapula alasan lain yang diungkapkan Charles L. Raison seorang psikiatris dari Universitas Emory. Raison mengatakan terangnya bulan purnama dapat mempengaruhi kekurangan tidur apalagi untuk orang yang memiliki penyakit mental. Karena kekurangan tidur inilah orang sering terpicu untuk bertindak tidak menentu pada kondisi psikologis tertentu. Dari sinilah kemungkinan kepercayaan tersebut muncul.
Bagaimana? Apakah Anda percaya dengan efek bulan purnama?
Referensi:
Arkowitz, Hal dan Scott O. Lilienfeld. 2009. Lunacy and the Full Moon. Diakses pada 9 Maret 2018. https://www.scientificamerican.com/article/lunacy-and-the-full-moon/.
Misasi, Mary. 2018. 9-1-1 Review: Full Moon (Creepy AF) (Season 1 Episode 7). Diakses pada 9 Maret 2018. https://www.telltaletv.com/2018/03/9-1-1-review-full-moon-creepy-af-season-1-episode-7/
Rotton, James dan I. W. Kelly. 1985. Much Ado About the Full Moon: A Meta-Analysis of Lunar-Lunacy Research. Vol. 97, No. 2, 286-306.
Zimecki, Michal. 2006. The Lunar Cycle: Effect on Human and Anima Behavior and Physiology. Diakses pada 9 Maret 2018. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/16407788/.
Mencari Ide Cerita dan Sumber
Ketika menjadi jurnalis, pastinya kita pernah berada di posisi mempertanyakan kualitas cerita yang akan kita sampaikan ke editor. Tidak ada rumus khusus untuk mencari sudut pandang atau topik yang segar tetapi, ada bebetapa cara dan strategi yang dapat membantu jurnalis dalam penulisan berita science.
Pertama, jangkauan publikasi baik cetak maupun web. Biasakanlah diri dengan berita mingguan seperti, New Scientist dan Science News atau membaca artikel review seperti yang muncul di Scientific American, Nature’s News dan Views section.
Ketika sedang melakukan pencarian di web, jangan lupakan juga website milik pemerintah. Anda juga bisa mencari cerita langsung dari jurnal. Namun, Anda harus berhati-hati karena banyak jurnal dengan judul yang tidak dapat dimengerti.
Untuk mahasiswa sendiri disarankan untuk mencari referensi jurnal dari PubMed (www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi) yang merupakan perpustakaan online dengan jurnal medic dan artikel lengkap.
Adapula Lexis Nexis yang membantu Anda untuk melihat apakah cerita yang akan Anda angkat sudah pernah ditulis sebelumnya atau untuk membantu mendapatkan latar belakang dari cerita yang akan diangkat.
Mengikuti perkembangan dan mempelajari cerita yang sering dicetak, dipublikasikan, dan ditayangkan akan membantu Anda dalam mengembangkan news judgement. Memiliki latar belakang juga dapat membantu dalam menentukan sudut pandang tulisan dan kekurangan dalam analisis tulisan.
Benar jika sumber jurnalis mendapatkan berita adalah orang-orang. Rapat menjadi salah satu cara efisien untuk berkoneksi dengan banyak sumber. Banyak organisasi science yang mengadakan rapat dan terbuka untuk jurnalis, contohnya saja The American Physical Society (APS) dan The American Chemical Society.
Untuk mengatur waktu yang baik–mengingat banyak rapat yang diadakan oleh organisasi science–buatlah agenda sebelum pergi ke rapat besar. Lakukan riset mengenai rapat tersebut dan petakan rapat yang akan dihadiri. Pembicara lebih mudah untuk dipahami, biasanya mahasiswa yang lulus mempresentasikan penelitian mereka pada rekan-rekan universitas. Anda harus memahami topik yang mereka angkat untuk menghargai mereka.
Ini sedikit berbeda dengan pembicara tamu, biasanya Anda dapat mengkontak pembicara beberapa minggu sebelumnya untuk mengadakan janji temu setelah rapat. Hal ini akan membuat Anda mendapat perhatian dan pertanyaan Anda dapat terjawab sepenuhnya.
Daripada mencari sumber dalam rapat resmi, Anda juga bisa meminta pertemuan secara privat. Mariette DiChristina seorang editor eksekutif di Scientific American merekomendasikan untuk mengambil keuntungan di lokasi Anda, dia juga menyarankan untuk tidak menjadwalkan lebih dari satu wawancara per jam. Dalam wawancara, perhatikan setiap detail yang dapat mengantarkan cerita yang lebih baik.
Saran terakhir, carilah seseorang yang dapat Anda ajak mengobrol, bertukar pikiran adalah cara yang baik untuk membuat Anda waspada dan memunculkan sudut pandang dan perspektif baru.
BAGAIMANA CARA MELEMPAR ARTIKEL KE EDITOR?
Bekerja secara lepas dapat menghancurkan jiwa karena harus menghabiskan waktu untuk mencari cerita yang bagus. Memilah cerita pekerja lepas memang sudah namun, ads banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesempatan sukses.
Poin penting yang harus dilakukan:
BAGAIMANA MEMBUAT BLOG SCIENCE YANG SUKSES?
Poin penting yang dapat dilakukan:
BAGAIMANA MELAPORKAN KOFERENSI SCIENCE?
Konferensi pers sering menjadi tempat penting sebagai sumber materi untuk tulisan mengenai science. Apalagi, banyak cerita yang diungkap di konferensi pers.
Untuk ukuran yang baik, konferensi pers menjadi tempat untuk para rekan kerja bertemu, bergosip, dan minum bagi para peneliti. Jumlah makalah yang dipresentasikan pada pertemuan seperti ini menakjubkan. Biasanya, pihak acara melakukan briefing untuk beberapa hal penting sebelum konferensi dimulai.
Dalam menuliskan cerita untuk konferensi pers, terapkan aturan yang sama yaitu, buatlah cerita yang mentah, kalimat pendek, dan jangan gunakan klausa yang sulit. Gunakan lebih banyak kata kerja aktif dibanding kata sifat. Yang terpenting adalah lead Anda. Biasanya bagian pembuka cerita hanya sebanyak 26 kata merangkum isi artikel Anda.
Yang harus dilakukan:
BAGAIMANA MENGHINDARI KESALAHAN UMUM DALAM PENULISAN SCIENCE?
Yang harus dilakukan:
reference:
Blum, Deborah, Mary Knudson, dan Robin M. Henig. 2006. A Field Guide for Science Writers.New York: Oxford.
Jurnalis merupakan seseorang yang berjasa dalam bidang pemberitaan. Tidak jarang jurnalis rela bersusah payah untuk mendapatkan informasi yang dapat membuka mata publik terhadap dunia.
Beberapa di antaranya bahkan rela mempertaruhkan nyawanya di medan peperangan untuk terus meng-update kondisi konflik yang terjadi dalam suatu negara. Salah satunya Jürgen Hinzpeter (Thomas Kretschmann), seorang jurnalis tv asal Jerman yang meliput aksi pemberontakan yang terjadi di Gwangju, Korea Selatan pada tahun 1980.
Jürgen yang diberi tau oleh temannya Mr. Lee (Jung Jin Young) mengenai keributan di Gwangju segera mencari cara untuk masuk ke ibu kota Jeolla Selatan. Dibantu temannya, sang reporter Jerman itu pun memesan taxi perusahaan.
Namun, di sisi lain, seorang supir taksi independent, Kim Man Seob (Song Kang Ho) sedang membutuhkan pelanggan. Dia pun mendengar tawaran yang diajukan ke temannya ketika sedang makan. Diam-diam dirinya pun mencuri kesempatan untuk menerima tawaran tersebut.
Man Seob pun menjemput Jürgen dan mengantarkannya ke Gwangju dengan biaya yang dijanjikan sebesar 100 ribu won. Namun, ketatnya penjagaan di Gwangju membuat Man Seob memutar pikiran untuk masuk ke kota kembar Medan tersebut.
Tidak lama setelah berada di dalam Gwangju, Man Seob dan Jürgen pun bertemu dengan sekelompok mahasiswa yang ikut dalam aksi pemberontakan. Gu Jae Sik (Ryu Jun Yeol), salah satu mahasiswa dari rombongan tersebut yang dapat berbicara bahasa Inggris membantu mereka untuk meliput kerusuhan di Gwangju.

Adapula ketika sampai di rumah sakit, banyak taksi yang mogok untuk berjalan karena alasan takut ditangkap oleh pemerintah. Inilah yang membuat para supir taksi Gwangju menghargai Man Seob yang seorang supir taksi Seoul.
Man Seob dan Jürgen pun meliput kejadian pemberontakan yang memakan banyak korban di Gwangju. Bahkan keduanya juga ikut membantu para korban di tengah baku tembak.

Kisah mereka pun diangkat dalam film A Taxi Driver yang ditayangkan pada 11 Agustus 2017. Film yang disutradarai oleh Jang Hoon ini menekankan cerita pada kisah sang supir taxi yang mengantarkan jurnalis asing ke Gwangju. Kenapa sang supir taksi? Kenapa bukan kisah sang jurnalis yang mempertaruhkan nyawanya untuk memberitakan kerusuhan Gwangju pada dunia?
Hal ini terjawab di sepanjang alur film yang mana memperlihatkan bagaimana Man Seob berperang dengan dirinya sendiri. Sisi lain dirinya ingin kabur dari sang jurnalis dan kembali ke Seoul tetapi, di sisi lain dia juga ingin membantu sang jurnalis agar dunia tau apa yang terjadi di Gwangju.
Para supir taksi Gwangju pun menghormati Man Seob yang berani mempertaruhkan nyawanya mengantar sang jurnalis ke Gwangju di saat taksi Gwangju melakukan aksi mogok.
Pada film ini diceritakan jelas perjuangan di balik kesuksesan seorang jurnalis. Hanya saja, yang ditekankan adalah perjuangan dari orang yang membantu sang jurnalis yaitu supir taksi.
Di akhir film pun diceritakan bahwa Jürgen masih penasaran dengan identitas sang supir yang ketika terakhir bertemu memberikan nama dan nomor palsu.
Terkadang dalam kehidupan, hal kecil yang tidak terlihat dapat membantu kesuksesan.
P.s: artikel ini berisi fakta objektif yang dibumbui opini pada awal dan akhir tulisan.
Reference:
Imdb
Korea.iyaa.com
Science atau ilmu pengetahuan sudah mengubah dunia kita secara luar biasa. Meskipun, science dapat menguntungkan atau justru merugikan umat manusia.
Namun, apakah sebenarnya science itu?
Banyak cara untuk mengetahui makna dari science. Science dimulai dengan “aku ingin tau”. Kalimat itu merupakan kalimat yang natural untuk mengartikan sebuah makna yang terlihat tidak biasa. Padahal menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata “tau” sendiri masih terlalu luas karena memiliki banyak makna.
Dalam konteks science¸kata tersebut memiliki makna melatih rasa penasaran, untuk mengamati dan mengumpulkan informasi serta berita untuk mengidentifikasi, membedakan, dan mendeskripsikan berbagai fitur kehidupan. Singkatnya, kata “tau” dapat bermakna melatik rasa penasaran dan membentuk pengetahuan dalam konteks science.
Adapula yang dinamakan pengetahuan umum dan pengetahuan scientific. Setiap harinya pengetahuan lebih sering dikenal sebagai pengetahuan umum, dasar, masuk akal atau langsung. Makna ini biasanya berkembang secara mulut ke mulut serta disebarkan tanpa pertanyaan dan muncul dari observasi sederhana.
Pengetahuan umum sendiri muncul dari kehidupan sehari-hari dengan lingkungan. Sedangkan pengetahuan sistematis membutuhkan pemikiran di luar jalur dan mudah diakses, tidak pasti dan patut dipertanyakan. Pengetahuan jenis ini membutuhkan bukti dan argument untuk membuktikannya. Pada hal ini, science dikatakan sama seperti karena pengetahuan sistematis didasarkan pada pilihan individu seperti perasaan dan keindahan suatu hal dan secara science, pengetahuan sistematis adalah proses memunculkan fakta dari alam.
Modern science mengurangi kebenaran dalam fakta dan dibuktikan dengan metode percobaan. Umumnya, untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” dari suatu hal. Selain metode ilmiah (scientific method), adapula agama yang selama ini menyediakan jawaban untuk pertanyaan seperti, “siapa kita? Apa tujuan hidup di dunia?” dan sebagainya. Jurnalis yang menulis mengenai science harus menghargai agama karena adalah ranah individu. Adapula modern science diperoleh dengan tahapan sebagai berikut:
Walaupun science sudah menjadi bagian dari hidup manusia, sayangnya hal-hal seperti kesalahan bahkan penipuan dapat terjadi. Beruntungnya, science memiliki kelebihan dalam hal menemukan kesalahan dan memperbaikinya melalui eksperimen yang lebih mendalam.
Lalu bagaimana seorang jurnalis memberitakan science?
Seperti ilmuan, jurnalis juga haruslah netral dan objektif. Bedanya, jika ilmuan mengobservasi sesuatu yang spesifik, maka jurnalis “mengobservasi” hal yang luas. Hal yang harus dipertahankan seorang jurnalis adalah kebenaran, nilai berita, makna, dan ketertarikan.
Jurnalis science ingin memberikan informasi dan manfaat pada public. Mereka biasanya memang tertarik dengan science namun, semua itu didasarkan pada seni keraguan. Jurnalis science biasanya kritis dengan makna mempertanyakan, menganalisis, menseleksi, mendeskripsi, memverifikasi fakta scientific.
Namun, adapula batasan science. Thomas Khun mengatakan pencarian kebenaran objektif bukanlah tujuan utama science tetapi, dasarnya science adalah metode pemecahan masalah dengan system kepercayaan kontemporer. Adapula, Karl Popper juga memberi pernyataan bahwa science adalah pengetahuan yang dapat dibuktikan salah. Menurutnya, setiap eksperimen dan observasi bertujuan menantang teori yang ada.
Induksi merupakan salah satu istilah bagi generalisasi sedangkan deduksi adalah kebalikannya. Dalam menuliskan artikel atau makalah ilmiah, biasanya melalui dua tahap uji sebelum dipublikasikan. Pertama mealui evaluasi editor kemudian melalui ahli pengetahuan yang sering dikenal dengan “rekan peninjau”.
John Rennie salah satu mantan editor Scientic American memiliki peringatan untuk kerentanan “rekan peninjau”:
-Kemungkinan kesalahan
-Penipuan
-Bias dan ketidakjujuran
-Tekanan Politik
Reference:
Online Course in Science Journalism by the WFSI and SciDev.Net
Photo cr. Library.ucla.edu
“When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life”
-Hannah Baker, 13 Reasons Why (2017)

Semua orang tentunya memiliki alasan dalam melakukan sesuatu Alasan menjadi jawaban untuk sebuah pertanyaan umum. Contohnya, kita minum karena haus. Kita makan karena kita lapar. Kita tidur karena kita mengantuk.
Namun, alasan memjadi hal lain bagi Hannah Baker (Katherine Langford). Remaja berusia 17 tahun tersebut memilih alasan sebagai bukti kematiannya.
Hannah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah membuat dan menyebarkan kaset yang berisi 13 alasan dirinya meninggal. Kaset tersebut berisi cerita dengan “pemeran utama” yang berbeda.
Orang pertama yang mendengarkan kaset tersebut adalah “pemeran pertama” di kaset nomor satu. Setelah orang pertama selesai mendengarkannya, dia harus memberikan kaset tersebut pada orang yang berada di kaset nomor dua dan seterusnya.
Clay Jensen (Dylan Minnette) yang merupakan sahabat sekaligus orang yang menyukai Hannah berusaha menguak semua alasan tersebut sebagai bukti kepergian Hannah. Clay sendiri termasuk ke dalam salah satu dari 13 kaset yang dibuat Hannah.
Pada kaset terakhir, Hannah menceritakan hari terakhirnya di mana dia sempat memberikan harapan pada hidupnya. Namun, pada hari itu juga, dia menyerah pada harapan tersebut.
Hannah pun meninggal dengan mengiris nadinya di dalam bath up yang berisikan air. Kisah 13 kaset berisi alasan Hannah tersebut diceritakan melalui serial tv yang diproduseri oleh Joseph Incaprera dan co-produser Selena Gomez.
Serial tv yang berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Jay asher ini memang diadaptasikan untuk Netflix. Namun, pada awalnya kisah Hannah Baker ini direncanakan untuk diadaptasikan menjadi sebuah film dengan pemeran utama Selena Gomez. Oleh karena itu, mantan kekasih Justin Bieber tersebut akhirnya menjadi salah satu co-produser.
Meskipun mendapat rating 8.3 di imdb, film ini mendapat banyak kritikan karena menjadi pemacu remaja untuk melakukan bunuh diri. Padahal melalui 13 episode yang ditayangkan, penonton disajikan pelajaran moral yang sebenarnya tersembunyi di balik kisah-kisahnya.
Namun, alih-alih mengambil sisi positif, rupanya masyarakat malah terpengaruh untuk mengikuti aksi Hannah dengan mengakhiri hidup.
Jadi, siapakah yang sebenarnya salah mengartikan pesan dalam serial tv ini? Jika anda tertarik menonton, ingatlah untuk mengambil sisi positifnya.
p.s tulisan ini berbentuk opini sehingga bersifat subjektif
Halo.
Saya Monique Hartono, saat ini saya sedang menimba ilmu di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Saya sendiri mengambil jurnalistik sebagai ilmu yang saya ingin perdalami. Menurut saya, jurnalistik adalah suatu cara baru untuk melatih diri menjadi kritis dan berani.
Alasan saya mengambil jurnalistik tidak lain karena saya suka menulis. Bagi saya, menulis dapat mengekspresikan kepribadian dan perasaan serta pikiran saya. Hal ini tidak berbeda dengan hobi saya, menari.
Dalam Theater in Mind, saya akan membahas mengenai seni dan budaya yang ada di sekeliling kita. Tidak hanya itu, pada dasarnya blog ini dibuat untuk membahas mengenai review atau rekomendasi film-film terbaik. Meskipun akan bersikap subjektif, saya akan mencoba sebisa mungkin untuk menjadikannya objektif.
Welcome and enjoy my story. 🙂